Alkisah seorang bocah duduk termenung dalam lamunan di bawah rindangnya
pohon cemara. Tentang sebuah masa depan, anak kecil itu sedang berpikir
tentang seperti apakah dirinya 10 tahun yang akan datang, atau 20 tahun
lagi, 30, 40,50, bahkan 100 tahun yang akan datang.
Pernah terlintas dalam sebuah artikel di sebuah surat kabar yang sering
memunculkan nama-nama seperti Kartini, presiden Soekarno, Bung Hatta,
dan sebagainya. Dalam benaknya, nama yang sangat lestari tersebut selalu
tertata kuat dalam setiap hati warga Indonesia. Ya tentu karena
jasa-jasa yang telah mereka berikan bagi negeri ini. Sekali lagi, ia
bertanya kepada diri sendiri, "Akankah aku seperti mereka?"
Bak sebuah api yang kena hembusan udara kencang, begitu pun dengan
dirinya. Sempat juga membayangkan tentang suatu saat nanti ketika
tubuhnya terbujur kaku dalam bungkusan kain kafan, bahkan sudah berada
dalam liang lahat. Apa yang akan orang lain katakan tentang dirinya?
Masih adakah orang yang mengingat namanya? Atau justru dalam beberapa
bulan saja mereka sudah melupakan namaku?
"Apakah ada daftar nama seperti yang aku baca dalam surat kabar?"
Sepertinya semua belum terlambat. Suatu saat aku harus bisa memberikan
manfaat kepada orang banyak seperti Bung karno, buing hatta atau juga
ibu kartini. "Aku tak mau menjadi sampah." tegasnya.
What about you??
Ketika Alfred Nobel merenung dan mengubah tindakannya. Sejak hari itu ia melakukan banyak hal dalam bidang perdamaian. Namanya
adalah Alfred Nobel dan kita mengenangnya hari ini dalam sebuah “monumen
abadi” bernama Hadiah Nobel. mungkin kita juga bisa melakukan hal serupa. Pikirkanlah.
Apa yang akan kita wariskan kepada generasi penerus kita?
Seperti apa kita ingin dikenang?
Apakah orang-orang akan berkata hal-hal yang baik tentang kita?
Apakah orang-orang akan mengenang kita dengan cinta dan rasa hormat?
Renungkanlah, lalu ambil tindakan untuk mewujudkannya
Semoga bermanfaat
Salam sukses