Pancasila yang Tak Hanya Berdimensi Sosdem, Namun Juga Relijius

Posted by Labels: at
Sejatinya, dengan menjadikan Ketuhan Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila yang menjiwai empat sila yang lain dan menjadikan Negara Republik Indonesia berdasar Ketuhanan yang Maha Esa, lalu pada satu dimensi Tuhan juga memerintahkan kita untuk menegakkan panji-panji ideologi ’kejujuran, keadilan dan kemanusiaan transenden’, maka corak pandangan dunia ’sosialisme keadilan’ kita pun, bisa kita sebut berpola demokratis dan relijius.
Demokrasinya pun, khas Nusantara Indonesia yang dengan modalitas elemen-elemen ’kearifan lokal’-nya yang berbasis peradaban Esoteris (ruh) yang menonjol dengan gaya kepemimpinan ’Pandita Ilahi/Pandita Ratu/ Philosopher King’-nya (cendekia pencerah – sasmita – waskita – bijaksana), maka terkonstruksi lah menjadi Demokrasi Hikmah Kebijaksanaan seperti dipancangkan oleh Bung Karno dan para Founding Fathers.
Dalam konstruksi Sistem ”Filsafat/Pengetahuan – Berfikir Rasional, Ideologi, Paradigma Pandangan Dunia ’Bermasyarakat-Berbangsa-Bernegara’, Sosial-Politik, Ekonomi dst.” kita bisa belajar dengan sodara-sodara kita bangsa Jepang, Iran, Korea, China, India, ’Jerman-Perancis’ bahkan Vietnam sebagai sesama bangsa-bangsa yang memiliki basis peradaban Esoteris/ Ruh, dan telah representatif sukses lakukan konsolidasi ’kebangsaan dan demokrasi hikmah kebijaksanaan’ yang khas sesuai dengan bahan-bahan landasan idealitas - realitas sosio-historisnya masing-masing .
”Pancasila Sebagai Perwujudan Sosialisme Demokrat/Sosdem”
Istilah ‘kiri’ dan ‘kanan’ bermula dari revolusi Prancis (1789), ketika the National Assembly mengadakan sesi pertamanya di Versailles. ‘Kiri’ adalah mereka yang mengusulkan perubahan sosial menyangkut abolisi Monarki Perancis dan institusi sosial lainnya, konotasi ‘kiri’ sejak itu adalah radikalisme.
Sementara ‘kanan’ adalah mereka yang ingin melestarikan aspek-aspek monarki Perancis, konotasinya sejak itu adalah konservatisme.
Dewasa ini, ‘kiri’ mengacu pada gerakan yang menginginkan perubahan sosial menuju egalitarian. Sementara label ‘kanan’ kerap dikenakan pada kelompok-kelompok yang mempertahankan masyarakat dengan perbedaan kelas-kelas sosial seperti masyarakat kapitalis atau feodal.
Dengan berbagai terminologi yang berbeda, sosialisme demokrasi sebenarnya merupakan cita-cita banyak negara. Pancasila pun, dengan bahasa universalnya adalah sosialisme demokrasi sebab sila dam pancasila merupakan perwujudan dari nilai nlai yang menjadi agenda utama sosdem yakni kebebasan, kesetaraan/keadilan dan solidaritas ,namun hingga kini belum benar-benar mewujud.
Sosialisme demokrasi menurut Anthony Giddens dalam Third Way adalah ‘kiri tengah baru’. Sosialisme demokrasi ‘baru’ ini masih mengambil nilai-nilai kesejahteraan dan humanisme sosialisme demokrasi klasik, namun ditambahkan nilai peduli lingkungan hidup dan globaisasi Ideologi apa kiranya yang akan bertahan dalam ‘negara baru’ ini? Setelah gagalnya komunisme, dan kurang cocoknya kapitalisme, rasanya hanya sosialisme demokrasi yang dapat menghantar kita ke sana. Dan kembali ke pancasila adalah jawaban utama dari araknya permasalahan bangsa ini.
Ide sosial demokrasi ( sosdem ) berkembang dari gerakan – gerakan buruh di eropa, Tokoh yang dianggap berpengaruh mengembangkan ide sosial demokrasi ( sosdem ) adalah Eduard Bernstein. Lewat bukunya “Evolutionary Socialism (terbit tahun 1899)”, Bernstein menyerang ide-ide Marx yang memiliki berbagai kontradiksi internal dan bertentangan dengan demokrasi. Kaum sosialis, menurut Bernstein, harus mentransformasi masyarakat menuju keadilan sosial dengan cara-cara demokratis, bukan revolusioner seperti digagas Marx.
Berbeda dengan Marx yang meyakini bahwa institusi negara akan menghilang digantikan kekuasaan proletariat, Bernstein berargumen bahwa institusi negara harus dipandang sebagai mitra. Dengan demokrasi politik, negara akan bisa diyakinkan untuk mengakomodasi hak-hak ekonomi dan politik kelas masyarakat yang terpinggirkan oleh kapitalisme, Ide klasik sosial demokrasi(sosdem) adalah orientasi mengatasi kesenjangan sosial ekonomi, perluasan kesempatan partisipasi kaum yang kurang beruntung, mewujudkan keadilan sosial dan demokratisasi. (Jan Roi Purba, ada asap tahu yang terbakar - Sumber: politik.kompasiana.com, 07 January 2013)
“Ideologi Universal Pancasila yang Hidup, Kontekstual, Aktual Mengejawantah di Ruang Kehidupan; Sila1: Kejujuran, Tauhid/Teologi ‘Pembebasan-Kemanunggalan-Penyucian Jiwa’, Sila 2: Kemanusiaan Transenden, Sosialisme Keadilan Relijius, Pembangunan Tata Akhlak Peradaban, Sila 3: Kebangsaan Berbasis ‘Kearifan-kearifan Lokal’ Kemanusiaan. Sila 4: Demokrasi Hikmah Kebijaksanaan, Sila 5: Negara Keutamaan yang Menyejahterakan – Memakmurkan – Membahagiakan – Berkeadilan Sosial”, “Paradigma Pandangan Dunia: Nasionalis, Agama, Nilai-nilai Komunal Kehidupan Sosial Universal/ NASAKOMSOS”]



>
Post a Comment

Back to Top