Bayangkan bila Rasulullah SAW dengan seizin Allah tiba-tiba datang mengetuk rumah kita.
Beliau datang dengan tersenyum dengan muka yang bersih di depan pintu
rumah kita. Apa yang akan kita lakukan? Mestinya kita akan sangat
berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan masuk ke
ruang tamu. Kemudian kita tentu akan meminta dengan sangat agar
Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita.
Tapi barangkali kita meminta Rasulullah untuk menunggu di depan pintu
sebentar karena teringat akan kaset film holywood yang berbintangi oleh
artis-artis panas yang tergeletak banyak di meja tamu. Kita tergesa-gesa
memindahkannya ke tempat lain agar Rasulullah tidak melihatnya.
Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang
yang ada di atas kamar tamu, sehingga terpaksa kita memindahkannya ke
belakang secara tergesa-gesa. Barangkali kita akan langsung menggantinya
dengan lafadz Allah dan Muhammad disana juga dengan tergesa-gesa.
Bagaimana bila Rasulullah bersedia menginap di rumah kita. Barangkali
kita merasa malu karena kita merasa sering telat shalat, jarang pergi ke
masjid, jarang mengaji dan mengajari anak-anak kita.
Ketika Rasulullah mengajak kita untuk mengaji bersama, kita merasa malu
karena tidak bisa mengaji serta berkata, "Maaf ya Rasulullah saya belum
bisa ngaji". Alangkah malunya kita.
Beliau tentu tersenyum...
Ketika Rasulullah menanyakan tentang kehidupan kita dan kita menjawab,
"saya masih jarang sedekah ya Rasulullah, saya masih sering meninggalkan
shalat, menolong orang lain, dan kadang masih suka maksiat".
Barangkali kita menjadi malu karena pada saat maghrib keluarga malah
sibuk di depan TV. Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan
hampir seluruh waktu untuk mencari kesenangan duniawi. Barangkali kita
menjadi malu karena keluarga jarang melaksanakan shalat sunnah.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga sangat jarang membaca
Al-Qur'an. Barangkali kita menjadi malu karena ketidak pedulian kita
pada oranglain.
Maafkanlah kami ya Rasulullah...
Masihkah beliau tersenyum?
Senyum pilu, senyum pedih dan senyum getir..
Oh betapa malunya kehidupan kita saat ini dimata Rasulullah......
Dikutip dari buku "Nutrisi Jiwa Islamic Food Combining For Your Soul and Mind"
Created by : M. Ishak