Kisah Abu Bakar
dan Nabi Muhammad di Goa Tsur - Diriwayatkan oleh guru mulia kita Al Musnid Al
Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh matta’anallahu bih.
Diriwayatkan dalam Shahih Al
Bukhari bahwa sayyidina Abu Bakr bercerita ketika beliau berjalan bersama
Rasulullah di saat hijrah ke Madinah. Dimana ketika waktu zawal yaitu ketika
matahari tepat berada di tengah-tengah yang beberapa menit kemudian masuk waktu
zhuhur, jadi ketika matahari masih di tengah itu belum masuk waktu zhuhur, dan
setelah matahari tergelincir sedikit maka telah masuk waktu dzuhur, dan di
waktu seperti itu tidak ada yang keluar rumah karena cuaca sangat panas, maka
rasulullah keluar disaat itu supaya tidak ada orang yang melihatnya dan menuju
rumah sayyidina Abu Bakr As Shiddiq, dan setelah sampai ke rumah Abu Bakr,
Rasulullah berkata:
“wahai putri Abu Bakr, dimana ayahmu?”,
maka sayyidah Aisyah berkata:
“labbaik wa sa’daik ya rasulullah, apa
yang membuatmu datang di waktu seperti ini?”,
maka sayyidina Abu Bakr keluar dan berkata:
“labbaik ya rasulallah, wahai rasulullah apa yang membuatmu datang di waktu
yang tidak biasanya engkau datang, pastilah ada hal yang penting!?”,
rasulullah menjawab:
“wahai Abu Bakr, sudah ada izin untukku meninggalakan Makkah”,
maka Abu Bakr melihat wajah rasulullah dan berkata:
“bolehkah aku yang menemanimu wahai Rasulullah?”
maka Rasulullah berkata:
“engkaulah yang terpilih dan akan menemaniku wahai Abu bakr”,
sehingga dalam sebuah riwayat sayyidah Aisyah berkata:
“aku belum pernah melihat ayahku menjerit karena gembira kecuali ketika
rasulullah berkata kepadanya : “engkau yang akan menemaniku hijarh ke Madinah
Al Munawwarah”,
maka disaat itu sayyidina Abu Bakr memeluk rasulullah dan menangis gembira.
Maka sayyidina Abu Bakr menyiapkan kuda untuk rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dan dibawa ke Jabal Tsur oleh salah seorang budaknya. Ketika itu
Rasulullah dan sayyidina Abu Bakr masuk ke dalam salah satu goa untuk
beristirahat dimana di dalam goa itu terdapat banyak lubang ular dan sarang-sarang
kalajengking, maka sayyidina Abu Bakr As Shiddiq membuka sorbannya untuk
menutupi lubang-lubang itu, supaya tidak ada ular yang keluar dari
lubang-lubang itu.
Maka semua lubang tertutup kecuali satu lubang, dan disaat itu rasulullah
tertidur di pangkuan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra.
Abu Bakr pun selalu melihat lubang yang belum tertutup itu khawatir ada ular
atau kalajengking yang keluar dari lubang itu, dan ternyata ada ular yang
mengeluarkan kepalanya di lubang itu, maka sayyidina Abu Bakr menutup lubang
itu dengan telapak tangannya sehingga ular iu terus menggigitnya dan beliau
hanya menahan sakit tanpa bergeming sedikitpun karena khawatir rasulullah akan
terbangun dari tidurnya, maka Abu Bakr terus menahan sakit sampai air matanya
menetes karena pedihnya gigitan ular itu dan mengenai wajah rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya rasulullah pun terbangun dari tidurnya
dan berkata:
“apa yang terjadi wahai Abu Bakr?”
maka Abu Bakr menjawab:
“ular telah menggigitku wahai rasulullah”,
maka diraihlah tangan Abu Bakr yang
dipenuhi dengan darah karena gigitan ular dan Rasulullah meludahinya kemudian
sembuhlah luka itu. Diriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah bahwa ular itu
datang bukan ingin mengganggu tetapi ingin melihat wajah rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, namun ketika dihalangi oleh Abu Bakr As Shiddiq maka ular itu
pun marah dan menggigit tangat Abu Bakr, ini riwayat dari guru mulia tercinta
kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh matta’anallahu
bih.